Powered By Blogger

Senin, 02 April 2012

Sejarah Indonesia, 1200-2008, Sebuah Buku

Sejarah Indonesia, 1200-2008, Sebuah Buku


ricklefsApa yang anda bayangkan sewaktu mendengar kata “pelajaran sejarah”? Sebagian besar orang akan membayangkan sebuah pelajaran membosankan di mana kita harus menghafalkan nama tempat dan tahun. Dan kalau aku bertanya tentang apa yang tersisa di benak anda mengenai pelajaran sejarah, umumnya yang orang ingat hanya Perang Diponegoro dari tahun 1825-1830. Tetapi kalau aku bertanya tentang apa signifikansi Perang Diponegoro bagi perjalanan sejarah Indonesia, hampir pasti tidak ada yang bisa berpendapat, bahkan sekedar pendapat pribadi sekalipun. Jadi apa gunanya pelajaran sejarah kita di sekolah? Apakah sekedar untuk ikut kuis “Are You Smarter than a Fifth Grader?” Sepertinya sih iya. Jangan harap kalau pendidikan sejarah memberi lebih dari itu.
Salah satu penyebab dari hal di atas adalah buruknya mutu buku pendidikan sejarah di sekolah kita. Aku sebagai seorang pelajar angkatan 80-an, adalah “korban” dari doktrinasi sejarah, bukan pendidikan sejarah. Seperti yang kita tahu, pelajaran sejarah, baik di Orde Lama dan khusunya Orde Baru adalah alat untuk indoktrinasi massa, bukan untuk sebuah pembelajaran. Untuk itulah, kehadiran buku-buku sejarah yang baik menjadi sangat dibutuhkan, baik untuk dipakai di sekolah khususnya, atau untuk dibaca masyarakat awam umumnya. Sebuah buku sejarah karangan Ricklefs, seorang dosen di National University Singapore yang dulu juga pernah mengajar di Monash University dan Australia National University, dengan judul SEJARAH INDONESIA MODERN, 1200-2008, yang diterbitkan oleh Serambi bisa dihadirkan untuk memenuhi kekosongan ini.
Lalu apa yang ditawarkan buku ini? Buku ini tidaklah memberikan sebuah sejarah Indonesia secara komprehensif dari awal sampai akhir, melainkan hanya melihat dari tahun 1200 seperti yang dituliskan di depan judulnya. Istilah “modern” yang dipakai juga tentu bisa diperdebatkan. Istilah “Indonesia” sendiri juga bisa diperdebatkan, yaitu apakah Indonesia sudah ada pada waktu itu, dan mengapa istilah yang dipakai bukan Nusantara, misalnya. Yang jelas, buku ini mulai melihat sejarah Indonesia sejak intensifnya hubungan Indonesia dengan luar negeri, khususnya para pedagang Islam, dan apa akibatnya bagi perkembangan sejarah Indonesia.
Buku ini menawarkan jawaban dari sebuah pertanyaan yang sering dilewatkan buku pelajaran sekolah atau dijawab dengan terlalu gamblang yaitu pertanyaan MENGAPA? Buku pelajaran sekolah sering terlalu berkutat dengan fakta tempat dan waktu, sehingga lebih terlihat sebagai sebuah kronik tanpa penjelasan yang memadai, dan kalau pun ada penjelasan cenderung indoktrinatif. Buku ini tidaklah demikian. Ia di dalam menjelaskan sebuah fakta kerap mengutip fakta itu diperoleh dari mana, dan apakah sumber itu bisa dipercaya atau tidak. Di dalam beberapa kurun, seperti awal masa raja-raja Mataram Islam, Ricklefs mengatakan bahwa sumber-sumber yang ada bisa jadi kurang bisa dipercaya karena ditulis dua abad setelah kejadian, dan sering kali tulisan yang berasal dari dalam kerajaan bukanlah catatan sejarah sebenarnya melainkan ditulis untuk melegitimasi kekuasaan. Hal-hal seperti ini juga akan banyak dijumpai di dalam banyak bagian di buku ini.
Buku ini juga akan membuka mata anda mengenai apa yang terjadi dengan VOC dan tanam paksa misalnya. Buku sejarah kita cenderung melihat VOC dan tanam paksa dengan hitam putih, bahwa ia pasti buruk tanpa melihat dengan jelas fakta-fakta yang ada, serta menggunakan analisis yang mendalam. Penjelasan  bahwa VOC adalah sebuah kongsi dagang, yang kebetulan bermarkas di Belanda, kerap kali luput dari pelajaran sejarah kita. Artinya VOC adalah sebuah perusahaan, seperti Freeport, misalnya. Penindasan yang dilakukan oleh VOC, setelah membaca buku ini, justru bisa dikaitkan dengan kejadian di Timika, Papua, oleh Freeport, misalnya. Penjelasan seperti ini bisa lebih memperjelas masalah, bukan sekedar melihat bahwa VOC sama dengan Belanda, sama dengan penjajah, dan semua penjajah adalah buruk. VOC buruk justru karena korupsi di dalamnya, dan pejabat-pejabatnya yang korup itulah yang bukan sekedar merugikan masyarakat Indonesia tetapi juga membuat VOC bangkrut.
Begitu pula dengan tanam paksa. Tanam paksa tidak sekedar dilihat sebagai sebuah masa yang mengenaskan bagi masyarakat. Namun tanam paksa juga menghadirkan hal yang lain yan juga sering luput dari buku pelajaran sejarah kita. Tanam paksa menghadirkan industrialisasi pertanian di Indonesia, yang memicu pembuatan pabrik dan juga jalur kereta. Ia juga melahirkan kelas menengah sebagai administratur, yaitu para priyayi baru terdidik yang tidak berdarah biru. Dengan dibukanya perkebunan-perkebunan tanam paksa, era ekonomi yang juga dimulai, karena petani penggarap mulai dapat bekerja untuk mendapatkan upah, ketimbang hanya bagi hasil dari tuan tanahnya dalam sebuah sistem ekonomi feudal.
Setelah anda membaca buku ini anda akan mulai mempertanyakan apakah benar Indonesia telah dijajah 350 tahun oleh Belanda. Kata “Indonesia” sendiri tentunya juga bermasalah. Begitu pula dengan konsep penjajahan. Yang dilakukan oleh VOC pada awal kedatangannya adalah melakukan konsesi dagang, dengan membayar kepada pihak kerajaan lokal, sebagaimana yang dilakukan perusahaan sekarang. Bahwa mereka pada akhirnya menindas penduduk lokal, ini tidak terlepas dari pemerintah lokal itu sendiri. Konflik internal dalam keluarga kerajaan juga begitu komplek, apalagi pertikaian antar kerajaan. VOC sendiri hadir atau bisa disebut terjebak dalam konflik ini. Konsep devide et impera yang sering dipakai dalam buku pelajaran kita juga perlu dianalisis ulang. Tanpa VOC pun, Indonesia sudah terpecah belah saling perang satu sama lain.
Hal menarik yang juga sering luput dari buku sejarah kita adalah peranan orang Cina di dalam sejarah kita. Di dalam buku ini kita dapat melihat peranan mereka serta pemberontakan yang dilakukan oleh orang Cina yang mendahului perang Diponegoro, dan menjadi salah satu unsur dalam perang Diponegoro kemudian. Begitu pula dengan konflik horizontal antara pemilik tanah dan petani penggarap yang sering dilupakan, karena pemilik tanah umumnya adalah seorang haji dan pemuka agama, sehingga bisa dianggap SARA jika dimasukkan ke dalam buku pelajaran.
Catatan-catatan pra kemerdekaan maupun pasca kemerdekaan juga cukup menarik untuk disimak, baik era Orde Lama, Orde Batu dan khususnya setelah era Reformasi. Ia memberikan catatan kritis tentangn pemerintahan Habibie, Gus Dur, Megawati, sampai SBY. Ia memberikan catatan misalnya tentang SBY sebagai seorang presiden yang populer, namun sebenarnya tidak terlalu banyak bekerja, yang dikontraskan dengan wakil presidennya JK yang banyak bekerja, namun tidak populer di mata masyarakat. Ricklefs juga memberikan catatan tentang bangkitnya fundamentalisme agama khususnya Islam di Indonesia yang diwarnai dengan munculnya organisasi seperti FPI, Majelis Mujahidin, Jamaah Islamiah, sampai organisasi politik seperti HTI dan PKS. Ia memberikan catatan kritis tentang sepak terjang organisasi-organisasi di atas, yang hampir pasti luput dari buku pelajaran dan juga media mainstream di Indonesia.
Pada akhirnya buku ini memberikan banyak sekali sumbangan untuk melihat kembali apa itu Indonesia, ditinjau dari kurun waktu pembahasan 1200-2008. Buku ini bukan satu-satunya buku yang bisa dipakai untuk memahami Indonesia. Masih banyak buku-buku sejarah lain yang layak, seperti buku karangan Denys Lombard dan Slamet Mulyana misalnya. Kiranya, buku-buku seperti ini akan semakin banyak terbit untuk mengobati kurang berbobotnya buku-buku pelajaran sejarah di sekolah kita. Yang jelas, buku-buku ini akan memperberat kerja guru sejarah, karena anak-anak akan menjadi semakin kritis, dan soal-soal ulangan sejarah akan berbunyi seperti ini: Jelaskan pengaruh dari pemberontakan Diponegoro terhadap kolonialasi Jawa pada umumnya dan kolonialisasi Indonesia pada khususnya, ketimbang pertanyaan seperti: Sebutkan di mana saja letak benteng-benteng utama Diponegoro.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar